Ramen Kobok
Selasa, 11 Oktober 2011

Luthfan berulang tahun. Dia berencana mentraktir kami di sebuah rumah makan di kawasan Depok (tetapi tak tahu tepatnya dimana).
Perjalanan kembali dimulai hari jumat. Ya, karena memang hari Jumat adalah hari ekspedisi Lessgen. Dan otomatis seragam sekolah hari Jumat adalah seragam resmi ekspedisi Lessgen. Selesai salat Jumat di masjid sekolah, kami berbincang-bincang untuk merencanakan tempatnya. Juga tak lupa merencanakan kejutan tanpa diketahui Luthfan.
Tempat yang dipilih adalah Depok Mall. Nantinya Luthfan akan memilih rumah makan di dalamnya. Reyan, Luthfan, dan Tole segera bergegas menuju lokasi. Sementara Alwi dan Ariz pergi kerumah Ariz dahulu untuk mempersiapkan kue ulang tahun kejutan untuk Luthfan. Di rumah Ariz, kue yang sebelumnya telah dibuat dan dimasukkan dalam lemari pendingin itu dikeluarkan dari cetakannya dan menaruhnya dipiring untuk selanjutnya dibungkus dengan plastic wrap. Kue tersebut dimasukkan ke dalam tas Ariz tanpa memakai penutup apapun lagi dan tak lupa memasukkan pisau kedalamnya.
Di dalam Depok Mall, kami melihat pemandangan asing. Dahulu tempat perbelanjaan ini cukup ramai. Tetapi setelah direnovasi pengunjung tempat ini mulai menunjukkan pola grafik y= -x. Yang kami temui disana hanya penjaga toko saja sehingga kami bebas berkeliaran disana.
Kami pergi ke sebuah toko buku terlebih dahulu hanya untuk melihat-lihat isinya. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, karena sepinya tempat ini Alwi dan Reyan bebas berguling-guling di lantai toko buku. Setelah itu Luthfan memilih tempat dimana dia akan mentraktir. Dipilihlah sebuah rumah makan Jepang bernama Gokana.
Di dalamnya, kami segera memesan makanan yang kala itu harga maksimum yang dapat ditraktir Luthfan adalah Rp30.000,00. Kami semua memesan mi ramen.
Rencana dimulai. Tole mengajak Luthfan untuk membeli air mineral di supermarket yang lokasinya berada pada lantai paling bawah tempat perbelanjaan tersebut dengan alasan air mineral di sini harganya mahal. Kami bertiga segera menyiapkan kue dan lilin ulang tahun. Karena kue tersebut terlalu lama berada dalam tas, kue tersebut menjadi pipih. Semua topping-nya berantakan. Namun, kami hanya punya waktu sedikit untuk merapikan kue tersebut sebelum Luthfan datang. Dengan dirapikan seadanya dan tak lupa memasang lilin serta menyulut apinya, kue tersebut dipegang di bawah meja. Api segera padam karena sumbu menyentuh bagian bawah permukaan meja. Seketika itu juga Luthfan datang bersama Tole membawa air mineral.
Entah karena alasan yang jelas ketika ingin mengangkat kuenya dan menatuhnya diatas meja, terdengar lagu selamat ulang tahun karya NN yang berasal dari speaker rumah makan tersebut. Kontan kami kaget dan tertawa. Ternyata penjaga rumah makan ini melihat gerak-gerik kami mempersiapkan kue ulang tahun untuk Luthfan. Api kembali disulut dan Luthfan meniupnya. Seketika itu juga lagu ulang tahun berakhir. Ariz segera mengeluarkan pisau dari dalam tasnya yang lolos pemeriksaan di pintu masuk untuk memotong kuenya. Tangan kami pun berhiaskan topping kue yang berantakan.
Pesanan datang sebelum kami kenyang dengan kue tersebut. Kami makan dengan lahapnya. Makan selesai. Alwi yang malas berjalan ke wastafel segera ‘mencuci’ tangannya dengan kuah sisa mi ramen. Tak lupa ia mengelap tangannya ke sofa yang terlihat mahal. Kami terbahak-bahak melihat tingkahnya.
Hari beranjak malam, kami segera bergegas pulang kerumah masing-masing. penjaga rumah makan tadi hanya tersenyum-senyum melihat kami dari kejauhan.

Selamat ulang tahun, Luthfan!