EVERLASTING BEAUTY
Reyan Bewinda
Edisi Pertama, April 2012
Reyan Bewinda
Edisi Pertama, April 2012
Penyunting: Fahrezi Alwi M.
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Diterbitkan oleh Lessgen Incorporated
Anggota IKAPI
Dilarang keras memperbanyak sebagian atau seluruh isi artikel ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Diterbitkan oleh Lessgen Incorporated
Anggota IKAPI
Dilarang keras memperbanyak sebagian atau seluruh isi artikel ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang HAK CIPTA
- Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tahun) dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
- Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk temanku para penjelajah dunia
Exp 1
Pagi di Gereja
Berlari. Aku berlari. Walaupun langit masih berwarna biru kehitaman, tetapi jam di ponselku mengatakan bahwa aku sudah terlambat. Dengan cepat aku menerobos jalan raya dan melintasi rel kereta api yang tak berpalang. Tertangkap di retinaku bayangan orang-orang yang juga melintasi rel kereta api. Orang-orang tersebut mungkin dalam keadaan yang sama sepertiku, terburu-buru. Kunamai orang-orang tersebut: Para Pelintas Batas. Sebenarnya tempatku melintas ini tergolong ilegal. Tak jarang banyak korban berjatuhan akibat rel ini. Ada juga sebenarnya orang-orang yang tinggal pinggiran rel ini. Kasihan sekali mereka. Kalau kau tahu, daerah sekitar rel adalah daerah yang dilarang ditinggali oleh pemerintah. Itulah Jakarta. Kota yang keras. Tak peduli siapapun itu. Di sini, semua orang harus untuk bertahan hidup. Yang tak mampu, akan segera tertimbun oleh orang-orang yang mampu. Aku bersyukur karena aku tidak dilahirkan demikian.
Aku segera naik dan beristirahat di dalam mobil coklat dengan nomor 04 di kaca depannya. Mobil ini melaju kencang, entah kemana tujuannya. Tetapi tujuanku adalah gereja. Bukan untuk ibadah, karena aku adalah seorang muslim. Lagipula hari ini bukan hari Minggu. Hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 Januari 2012. Hari yang sudah kutunggu berbulan-bulan. Karena pada hari ini aku dan teman-temanku berjanji akan menjelajahi tanah impian kami, tanah dimana kami berharap akan menghabiskan masa kuliah kami nanti. Tanah itu adalah kota kembang, Bandung. Lessgen sudah merencanakan ini sejak lama, tetapi sayang Ariz dan Tole tidak bisa ikut. Sebagai gantinya Shiddiq ikut dengan kami.
"Gereja, gereja!" suara pak sopir menarikku keluar dari masa lalu. Aku turun dari angkot dan memberikan kertas bergambar Pangeran Antasari kepada sang sopir. Lalu mobil itupun pergi meninggalkanku sendirian. Aku berjalan ke arah gereja. Dan di seberangnya ada seseorang yang duduk. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dari hidungnya aku tahu itu Luthfan. Ia sudah datang sejak subuh. Apakah ia salat Subuh di gereja? Entahlah. Ia memang pantas dijadikan panutan. Ia selalu datang paling pagi di kelas. Pernah suatu ketika, saat pengambilan rapor, ternyata rapornya telah diambil oleh ayahnya. Ya, ia telah kalah cepat dari ayahnya. Bapak dan anak memang sama saja. Namun sekarang pikiranku tertuju pada bungkusan yang ada di sebelahnya. Ternyata ia membawa gorengan dan bacang, makanan favorit kami, raja dari segala jajanan pasar. Setelah kami menghirup beberapa sentimeter kubik karbon monoksida dari knalpot kendaraan yang lewat, akhirnya Alwi dan Shiddiq datang. Semuanya telah lengkap. Tujuan kami sekarang, Stasiun Jatinegara.
Exp 2
Executive Person
Kami tiba di stasiun Jatinegara satu jam lebih awal dari jadwal kedatangan kereta. Rasa malu Luthfan membuat ia memasukkan bungkus makanan ke dalam tasku. Ya, tasku, bukan tasnya. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya mengapa harus tasku. Tetapi sudahlah itu artinya semua makanan ada padaku. Kekekekeke.
"45, 45 cepetan keburu habis." kata Luthfan.
"45, 45 cepetan keburu habis." kata Luthfan.
Kami mengumpulkan uang untuk membeli tiket kereta bisnis Argo Parahyangan. Tak sampai satu menit, Luthfan kembali dan berkata,
"Tiketnya habis."
Kami semua tidak jadi pergi ke Bandung. Tamat. Tadinya aku kira begitu, sampai Luthfan berkata,
"Adanya tinggal yang eksekutif. Tapi 60.000."
"Adanya tinggal yang eksekutif. Tapi 60.000."
Terpaksa kami merogoh kocek lebih dalam. Setelah itu, kami pergi untuk menunggu kereta. Kami berdiri berdesak-desakan bersama orang-orang yang entah sudah berapa lama menunggu disini atau mereka memang belum mandi, karena baunya amat jelas menusuk syaraf olfaktori di hidungku. Entah karena tidak tahan atau apa, Alwi lalu pergi ke WC untuk buang air kecil. Kami ikut saja agar bisa keluar dari situasi ini. Di WC, ternyata ini lebih parah. Entah kapan terakhir kali WC itu dibersihkan. Baunya membuat kehilangan selera untuk buang air kecil maupun besar. Akhirnya kami pun berjalan-jalan melihat keliling stasiun.
“Plak!”. Sebuah telapak tangan menghantam punggungku dengan keras. Telapak tangan itu adalah telapak tangan Alwi. Dengan wajah berseri telunjuknya menunjuk ke arah papan bertuliskan:
Executive Waiting Room.
Executive Waiting Room.
Saat kami ingin masuk, di sana berdiri seorang petugas. Ia menatap kami dengan merendahkan. Namun semuanya berubah saat kami menunjukkan tiket kami. Tetapi orang di depan kami masuk tanpa menunjukkan tiketnya. Apa wajah kami ini wajah gembel? Apakah tidak masuk akal bagi wajah seperti ini dapat membeli tiket eksekutif? Sungguh sialan.
"Ada AC."
"Ada TV."
"Bangkunya sofa."
"Ada loker."
"Ada WC-nya."
"Ada abang-abangnya."
"Ada AC."
"Ada TV."
"Bangkunya sofa."
"Ada loker."
"Ada WC-nya."
"Ada abang-abangnya."
Kami berebut menunjukkan hal-hal yang istimewa di sana. Bayangkan saja, dengan beda hanya Rp15.000,00 saja, fasilitas yang disediakan sangat kontras. Bahkan ada penumpang yang barangnya dibawakan oleh petugas. Ckckck. Inilah kekuatan kata ‘eksekutif’. Alwi masuk ke dalam WC tanpa duduk terlebih dahulu. Saat ia kembali, jalannya sudah diblokir oleh seorang lansia. Lansia tersebut menutupi akses jalan menuju WC dan bangku yang kami duduki. Akhirnya dengan agak memaksakan diri ia berhasil lewat. Kami tertawa melihatnya, tetapi kami bungkam saat ia berkata,
"Bapak ini nguasain nih." sambil menunjuk orangnya yang berjarak hanya tiga puluh sentimeter dari kami.
"Bapak ini nguasain nih." sambil menunjuk orangnya yang berjarak hanya tiga puluh sentimeter dari kami.

Exp 3
KATv
Kereta tiba. Kami masuk ke dalam gerbong eksekutif. Kami segera mencari bangku kami. Shiddiq dan Luthfan telah menemukannya. Sebenarnya aku dan Alwi juga telah menemukannya, hanya saja di sana telah diduduki manusia-manusia tak beradat. Aku ingin menegurnya, tetapi karena mereka adalah ibu-ibu yang tentu saja lebih tua dariku, aku jadi sungkan. Akhirnya sampai kereta berjalan pun aku dan Alwi tetap berdiri. Sungguh sialan.
"Mas kok ga duduk?" tanya seorang petugas.
"Mas kok ga duduk?" tanya seorang petugas.
Aku menunjukkan tiketku kepadanya, lalu ia pun sadar sendiri.
"Maaf bu, ini kursinya Mas ini."
"Kursi saya juga di sini, Pak. Ini tiketnya."
"Coba saya lihat, Bu. Maaf Bu, kursi Ibu yang di depan."
"Ah saya ga mau, Pak. Saya berempat sama teman saya, kan ga enak kalau pisah duduknya."
"Maaf bu, ini kursinya Mas ini."
"Kursi saya juga di sini, Pak. Ini tiketnya."
"Coba saya lihat, Bu. Maaf Bu, kursi Ibu yang di depan."
"Ah saya ga mau, Pak. Saya berempat sama teman saya, kan ga enak kalau pisah duduknya."
Belum sempat aku mengatakan bahwa kami juga berempat, petugas itupun telah menyerah dan menyuruhku dan Alwi duduk di kursi paling depan. Satu kursi di kanan sendirian dan satu kursi di kiri bersama ibu-ibu. Dengan cepat aku duduk di kursi kanan. Aku tertawa melihat wajah terpaksa Alwi duduk di sebelah ibu-ibu.
Ada dua televisi tertempel di gerbong ini. Satu di depan, tepat di depan Alwi, dan satu lagi di paling belakang gerbong. Sejujurnya, televisi yang tertempel di belakang sungguh tidak berguna sebab layarnya yang membelakangi penumpang membuat orang malas untuk melihatnya. Dan sebenarnya televisi yang ada di depan pun tak berguna, karena hanya menampilkan satu saluran saja: KATv (Kereta Api Televisi). Acaranya hanya menampilkan bagaimana cara membuat kereta api, sejarah kereta api, trayek kereta api, dan hal-hal berbau kereta api lainnya. Dan itu diulang-ulang. Demikian juga dengan televisi yang di belakang. Saat video klip Yui diputar, barulah aku merasa terhibur. Setelah itu, televisi itu ‘kambuh’ menayangkan kereta api. Karena bosan akhirnya aku memasukkan jack headset ke dalam 3,5 mm port dalam ponselku, mendengarkan musik dan melihat pemandangan. Kawan, suatu hari kau harus menyaksikan pemandangan ini. Benar-benar luar biasa.
***
"Makannya Pak." suara seorang petugas yang mengajukan bungkusan nasi kepadaku. Aku tak mengira kelas eksekutif mendapatkan makan. Saat tanganku ingin mengambil makanan tersebut, aku baru sadar ini tidak mungkin gratis walaupun di gerbong eksekutif. Akhirnya aku tidak jadi mengambilnya. Dan ternyata memang benar tidak gratis. Penumpang di belakangku membelinya. Seharusnya petugas itu mengatakannya kalau itu tidak gratis. Sungguh licik. Hampir saja aku tertipu atau aku saja yang norak?
Exp 4
D
Tibalah kami di Bandung. Tetapi kami tidak yakin karena rasanya sama saja dengan di Jakarta. Ada tiga hal yang harus kau pastikan untuk meyakinkanmu berada di suatu tempat. Pertama, alamat. Kau harus melihat papan-papan toko dan lihat alamatnya. Kedua, bahasa. Kau harus dengarkan orang-orang berbicara dengan menggunakan bahasa apa. Ketiga, pelat kendaraan. Kau harus tahu pelat itu menunjukkan daerah mana. Setelah menghabiskan bekal makanan yang dibawa Luthfan, kami keluar stasiun dan memastikan ketiga hal tersebut. Pertama, papan-papan toko bertuliskan Bandung. Kedua, orang-orang di sini berbicara dengan bahasa Sunda, bahasa yang biasa dipakai oleh orang Jawa Barat. Ketiga, Pelat kendaraan yang lalu-lalang di jalanan, Hampir semuanya di depannya bertuliskan huruf ‘D’, pelat kendaraan untuk kota Bandung. Jadi, semuanya sudah jelas. Terlebih lagi saat Shiddiq berkata,
"Bandung Sob!"
"Bandung Sob!"
Exp 5
First Flower
Kesenangan karena telah tiba di Bandung tidak berlangsung lama. Semuanya hilang saat seseorang berkata,
"Kemana nih?"
Entah siapa yang menanyakan hal itu, yang jelas ia telah merusak kesenangan kami. Karena merasa lelah membawa tas yang berat, kami putuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Tetapi kemudian kalimat itu muncul lagi,
"Cari kemana?"
"Kemana nih?"
Entah siapa yang menanyakan hal itu, yang jelas ia telah merusak kesenangan kami. Karena merasa lelah membawa tas yang berat, kami putuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Tetapi kemudian kalimat itu muncul lagi,
"Cari kemana?"
Kawan, Ini pelajaran bagimu. Jika ingin pergi selama beberapa hari, pastikan kau sudah pesan tempat penginapan, atau setidaknya kau tahu alamatnya. Akhirnya dengan modal nekat dan sotoy, kami naik sebuah angkutan kota. Kami duduk berderet. Luthfan duduk paling pojok. Di depan kami ada tiga orang perempuan. Seorang ibu dan anaknya. Lalu seorang lagi adalah seorang perempuan berwajah oriental, berambut hitam panjang, berkulit putih, bentuk tubuh ideal, memakai kaos putih dengan blazer abu-abu, celana hitam panjang, dan memakai cincin di jarinya. Singkatnya, cantik. Ah sial jadi ini yang disebut ‘kembang’ Bandung? Jadi ini artinya sebutan kota kembang itu? Ya Tuhan, mengapa kau tidak menciptakanku sebagai orang Bandung? Kembang Bandung ini membuatku gila. Begitu sempurna. Begitu hime. Aku ingin terus melihatnya. Aku takkan turun sampai ia turun. Tetapi kemudian Luthfan berkata,
"Kiri, Bang!"
Oh tidak, apa-apaan si hidung ini. Apa haknya merusak kebahagiaanku. Angkotnya sudah berhenti. Alwi turun, Shiddiq turun. Itu artinya aku harus turun agar Luthfan bisa turun. Kami semua sudah turun. Angkot itu pergi setelah kami membayarnya. Dan kemudian menghilang dari pandanganku.
Baiklah Kawan, itu adalah saat-saat paling menyenangkan dalam hidupku. Kami turun di Jalan Ganesha. Kami berjalan-jalan melihat ITB dari luar. Jujur saja itu tak seindah yang kukira. Aku mengira bangunannya akan futuristik dan banyak robot berkeliaran. Maklum saja ini kan institut teknik. Tetapi sepanjang jalan hanya ada tahi kuda dan pedagang DVD game. Aku tidak memedulikannya. Pikiranku masih pada perempuan itu. Namun percakapan kami setelahnya sungguh di luar dugaan. Kira-kira percakapannya seperti ini:
"Lihat mbak-mbak di angkot tadi ga? Cantik tuh."
"Iya cantik."
"Putih lagi."
"Body-nya juga bagus."
Apa-apaan ini, ternyata mereka juga menyadarinya tetapi selama ini mereka diam saja. Sungguh sialan.
"Ah, nyesel nih turun."
"Iya nih gara-gara Luthfan."
"Habisnya ada ITB."
"ITB apaan? Tai kuda doang ini mah."
"Ini kan luarnya, lihat dong dalemnya."
Kami pun bertengkar. Tetapi kemudian,
"Aduh siapa ya namanya?"
"Denger suaranya ga tadi?"
"Iya, imut banget pake bahasa Sunda."
"Kira-kira umurnya dua puluhan tuh."
"Lihat mbak-mbak di angkot tadi ga? Cantik tuh."
"Iya cantik."
"Putih lagi."
"Body-nya juga bagus."
Apa-apaan ini, ternyata mereka juga menyadarinya tetapi selama ini mereka diam saja. Sungguh sialan.
"Ah, nyesel nih turun."
"Iya nih gara-gara Luthfan."
"Habisnya ada ITB."
"ITB apaan? Tai kuda doang ini mah."
"Ini kan luarnya, lihat dong dalemnya."
Kami pun bertengkar. Tetapi kemudian,
"Aduh siapa ya namanya?"
"Denger suaranya ga tadi?"
"Iya, imut banget pake bahasa Sunda."
"Kira-kira umurnya dua puluhan tuh."
"Bajunya sih kayak pengen pergi ke kantor. Berarti dia udah kerja."
"Kayaknya udah nikah juga. Soalnya dia pake cincin."
"Wah ga mungkin, salah lihat kali. Jangan merusak imajinasi dong."
"Paling itu tadi ibu sama adeknya."
"Iya ya, tapi tadi itu namanya 'kembang' kan?"
"Iya. kita sebut aja ‘First Flower’. Daripada 'mbak-mbak yang tadi', itu kan kepanjangan."
"Kayaknya udah nikah juga. Soalnya dia pake cincin."
"Wah ga mungkin, salah lihat kali. Jangan merusak imajinasi dong."
"Paling itu tadi ibu sama adeknya."
"Iya ya, tapi tadi itu namanya 'kembang' kan?"
"Iya. kita sebut aja ‘First Flower’. Daripada 'mbak-mbak yang tadi', itu kan kepanjangan."
Exp 6
Kompas
Kami berjalan tanpa arah. Mondar-mandir laksana anak itik yang kebingungan mencari ibunya. Namun ibunya sendiri ternyata sudah digoreng oleh peternak untuk dijadikan santapan malam keluarganya. Aku lalu bertanya,
"Ga ada yang punya peta apa?"
"Ada nih. Gua bawa." jawab Shiddiq.
"Ah kenapa ga bilang dari tadi."
"Yah lu nggak nanya."
"Arrgghh. Ya udah mana? Cepet keluarin."
Shiddiq segera merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan selembar potongan koran. Aku yakin itu bukan peta karena di sana tertulis Kompas. Di bawahnya terdapat banyak tulisan lowongan pekerjaan. Belum sempat aku marah, ia segera membalik koran tersebut. Di sana ada gambar peta. Di atasnya bertuliskan, Peta Kota Bandung. Luthfan menyarankan sebaiknya kami pergi ke daerah Dago. Menurutnya di sana ada penginapan. Kami percaya saja. Perlu kau ketahui, Kawan. Luthfan memiliki seorang kakak laki-laki yang kuliah di ITB. Jadi dialah satu-satunya yang memiliki koneksi di sini. Kami berjalan dan menaiki angkot menuju Dago. Di perjalanan, beberapa ide konyol pun muncul. Kami berpikiran kalau kami tidak menemukan penginapan, kami akan menginap di warnet dengan menyewa paket malam. Ide kedua, kami akan tidur di penjara. Shiddiq berkata kalau backpacker di luar negeri sana tidur dengan cara seperti itu. Kedua ide itu kami namai: Plan B.
"Ga ada yang punya peta apa?"
"Ada nih. Gua bawa." jawab Shiddiq.
"Ah kenapa ga bilang dari tadi."
"Yah lu nggak nanya."
"Arrgghh. Ya udah mana? Cepet keluarin."
Shiddiq segera merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan selembar potongan koran. Aku yakin itu bukan peta karena di sana tertulis Kompas. Di bawahnya terdapat banyak tulisan lowongan pekerjaan. Belum sempat aku marah, ia segera membalik koran tersebut. Di sana ada gambar peta. Di atasnya bertuliskan, Peta Kota Bandung. Luthfan menyarankan sebaiknya kami pergi ke daerah Dago. Menurutnya di sana ada penginapan. Kami percaya saja. Perlu kau ketahui, Kawan. Luthfan memiliki seorang kakak laki-laki yang kuliah di ITB. Jadi dialah satu-satunya yang memiliki koneksi di sini. Kami berjalan dan menaiki angkot menuju Dago. Di perjalanan, beberapa ide konyol pun muncul. Kami berpikiran kalau kami tidak menemukan penginapan, kami akan menginap di warnet dengan menyewa paket malam. Ide kedua, kami akan tidur di penjara. Shiddiq berkata kalau backpacker di luar negeri sana tidur dengan cara seperti itu. Kedua ide itu kami namai: Plan B.
Kami menemukan sebuah penginapan. Hanya saja harganya dapat merobek habis kantong kami dengan seketika. Setelah makan dan salat, kami melanjutkan pencarian. Malangnya, kami hanya menemukan tempat kos yang hanya menerima sewa tahunan. Kami sudah putus asa, kami juga lelah. Beban yang kami bawa terasa semakin berat saja. Kiloan meter kami berjalan membawa beban berkilo-kilogram membuat punggung kami nyeri. Apalagi langit sudah berwarna jingga, pertanda bahwa hari hampir malam. Alam rasanya ingin ikut-ikutan membuat kami panik. Kupikir setidaknya ini tidak akan bertambah buruk. Tak lama kemudian, hujan pun turun.
Exp 7
Ancol
Kami berteduh di sebuah musala. Di dalam sangat gelap. Aku mencari saklar lampunya dan kemudian kutekan. Sekarang semuanya tampak jelas. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Tampak juga Shiddiq yang terengah-engah. Keringat bercampur air hujan telah menggenangi bajunya. Maklum saja, badannya yang bongsor membuat ia mudah mengeluarkan keringat. Juga membuat ia kesulitan berlari sehingga ia kebasahan.
Musala ini memang sempit, tetapi cukup untuk tempat tidur kami berempat. Kami sempat berpikir untuk menginap di sana. Namun, kami masih percaya pada Luthfan. Kami putuskan untuk berkeliling mencari penginapan sekali lagi sambil menunggu kabar dari kakaknya. Luthfan menerima panggilan telepon. Itu pasti dari kakaknya.
"Ada ga?"
"Berapa?"
"Dimana?"
"Ha?"
"Ngelawak mulu. Seriusan."
"Berapa nomor teleponnya?"
"Ya udah."
Ia pun mengakhiri panggilan teleponnya. Kami sudah tidak sabar.
"Ada ga?"
"Berapa?"
"Dimana?"
"Ha?"
"Ngelawak mulu. Seriusan."
"Berapa nomor teleponnya?"
"Ya udah."
Ia pun mengakhiri panggilan teleponnya. Kami sudah tidak sabar.
"Ada ga?"
"Ada. 80.000 satu kamar semalam"
"Wah murah tuh. Di mana?"
"Ancol."
"Ha?"
"Ancol. Nomor 35."
"Ngelawak mulu."
"Seriusan. Kata kakak gua begitu. Coba cari di peta."
Ternyata benar memang ada daerah bernama Ancol di Bandung. Kami naik angkot ke arah Kalapa lalu turun di perempatan Ancol. Dilanjutkan perjalanan dengan naik becak. Kami berhasil menemukannya. Rumahnya cukup besar. Tetapi dapat dipastikan tidak ada anjingnya. Di depannya sudah ada seorang pria bersarung yang menunggu kami. Ia pasti tahu bahwa kami yang telah memesan kamarnya tadi. Kami segera dipersilakan masuk. Di dalam sudah ada seorang wanita, ia pasti istri dari pria yang telah mempersilakan kami masuk tadi. Kami duduk di sofa. Ibu itu menanyakan nama kami.
"Saya Luthfan."
"Ha?"
"Ancol. Nomor 35."
"Ngelawak mulu."
"Seriusan. Kata kakak gua begitu. Coba cari di peta."
Ternyata benar memang ada daerah bernama Ancol di Bandung. Kami naik angkot ke arah Kalapa lalu turun di perempatan Ancol. Dilanjutkan perjalanan dengan naik becak. Kami berhasil menemukannya. Rumahnya cukup besar. Tetapi dapat dipastikan tidak ada anjingnya. Di depannya sudah ada seorang pria bersarung yang menunggu kami. Ia pasti tahu bahwa kami yang telah memesan kamarnya tadi. Kami segera dipersilakan masuk. Di dalam sudah ada seorang wanita, ia pasti istri dari pria yang telah mempersilakan kami masuk tadi. Kami duduk di sofa. Ibu itu menanyakan nama kami.
"Saya Luthfan."
Luthfan mulai lebih dulu. Itu artinya aku adalah yang selanjutnya, karena aku duduk di sebelahnya. Aku lalu menjawab,
"Saya Reyan."
"Shiddiq."
"Alwi."
Mereka memberitahu namanya tanpa diminta. Ternyata penginapan ini adalah rumah yang dibagi dua. Satu untuk mereka huni dan satu lagi untuk disewakan. Ada ruang kumpul dengan televisi, empat kamar, dua WC, kompor, piring, gelas, alat masak, dan dispenser. Wow, sungguh luar biasa untuk sebuah penginapan seharga Rp80.000,00. Di manapun itu, tempat yang bernama Ancol memang fantastis.
Exp 8
Mitos
Hal pertama yang kami lakukan adalah mandi. Kami mandi bergantian. Kini Alwi yang sedang mandi.
"Habis mandi, jalan ga nih?" tanya Luthfan semangat.
"Ayo dah kita senang-senang lihat Bandung malam hari." jawabku.
"Habis mandi, jalan ga nih?" tanya Luthfan semangat.
"Ayo dah kita senang-senang lihat Bandung malam hari." jawabku.
“Krek.” Alwi membuka pintu kamar mandi, tanda ia telah selesai mandi. Ia memakai baju berbeda namun celananya tetap sama.
"Wi, lu ga gatel apa ga ganti celana? Kita kan habis ngegembel seharian." tanya Shiddiq.
"Gua bawa celana cuma satu, ini doang."
"Ha? Seriusan?"
"Ya ngapain gua pake lagi kalo ada yang lain."
"Anjrit dodol banget lu, kita kan di Bandung tiga hari."
Shiddiq tertawa. Kami ikut tertawa. Kemudian Shiddiq nyeletuk,
"Eh nanti temenin gua ya."
"Ke mana?"
"Beli baju."
"Ya elah beli baju sama oleh-oleh mah nanti aja pas mau pulang"
"Bukan begitu. Masalahnya gua cuma bawa satu baju ganti. Yang tadi kan kebasahan."
"Ha? Satu? Kita kan di Bandung tiga hari, Diq." Alwi meledek balik.
Kami tertawa lagi, dan kali ini tawa kami lebih keras dari sebelumnya.
"Wi, lu ga gatel apa ga ganti celana? Kita kan habis ngegembel seharian." tanya Shiddiq.
"Gua bawa celana cuma satu, ini doang."
"Ha? Seriusan?"
"Ya ngapain gua pake lagi kalo ada yang lain."
"Anjrit dodol banget lu, kita kan di Bandung tiga hari."
Shiddiq tertawa. Kami ikut tertawa. Kemudian Shiddiq nyeletuk,
"Eh nanti temenin gua ya."
"Ke mana?"
"Beli baju."
"Ya elah beli baju sama oleh-oleh mah nanti aja pas mau pulang"
"Bukan begitu. Masalahnya gua cuma bawa satu baju ganti. Yang tadi kan kebasahan."
"Ha? Satu? Kita kan di Bandung tiga hari, Diq." Alwi meledek balik.
Kami tertawa lagi, dan kali ini tawa kami lebih keras dari sebelumnya.
***
Malam hari, kami keluar. Kami memutuskan untuk pergi ke Jalan Braga yang terkenal di iklan XL hanya dengan modal selembar peta Bandung dari potongan koran. Kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Lagipula kami mana tahu harus naik angkot yang mana. Di tengah perjalanan, kami membeli colenak. Kependekan dari dicocol enak. Makanan khas Bandung yang kenyataannya menurut kami tidak enak. Lalu keanehan paling besar menghantui kami setelahnya. Kami baru menyadari ternyata jalanan sepi sekali. Toko-toko di pinggir jalan semua sudah hampir tutup. Mal-mal besar pun sudah tutup. Pedagang kaki lima sudah mulai tutup dan pulang. Jalanan sepi hingga kau bisa push-up di tengah jalan. Suasananya sekejap berubah menjadi horor. Udara terasa semakin dingin. Langit semakin gelap. Penerangan yang tersisa hanya dari lampu jalan dan mesin ATM yang ada setiap interval beberapa meter saja. Karena itulah kalau ada pocong melompat pun kami takkan tahu. Mungkin kami bisa mendengar suara lompatannya, karena satu-satunya yang bisa kami dengar hanya langkah kaki kami sendiri. Walaupun suasananya seperti itu, tetapi sebenarnya itu baru pukul delapan malam, Kawan. Hingga akhirnya kami sampai di titik dimana bernama Jalan Braga di peta. Tak ada apa-apa di sini. Hanya ada papan bertuliskan stasiun dan sebuah jalan layang yang baru dibuat. Kami melihat peta untuk memastikan apa kami tidak salah mengambil jalan. Dan saat aku melihat petanya, aku baru menyadarinya. Tertulis kecil di ujung atas peta tersebut.
Tahun 2007.
Tahun 2007.
Wah, ternyata ini adalah peta Bandung tahun 2007, pantas saja banyak jalan baru yang tak ada di peta. Kami memutuskan untuk pulang saja. Saat kami berbalik, kami baru menyadarinya. Kawan, ini jauh sekali. Ditambah lagi suasananya semakin mencekam. Sungguh sialan. Kami mulai berjalan pulang. Oh, sungguh tadi perjalanan yang sia-sia. Kali ini jalan terasa lebih jauh karena kami sudah lelah dan lapar. Untuk menghilangkan rasa itu, kami mulai membicarakan ‘First Flower’. Mantra pamungkas baru kami itu mampu membuat kami merasa senang saat situasi seperti ini. Di tengah perjalanan pulang kami menemukan pedagang mi kocok yang masih buka. Kami membelinya. Tetapi ternyata persediaan kikilnya telah habis. Akhirnya kikilnya diganti dengan bakso. Jadi ini namanya ‘bakso kocok’. Kami juga memesan es jeruk. Lapar sudah tergantikan dengan kenyang, Luthfan memberanikan diri bertanya kepada penjualnya.
“Berapa Bang?”
“Semuanya 69.000 dek.”
Kontan kami kaget mendengarnya. Apa pula ini. Semakin malam semakin aneh saja kota ini. Bagaimana tidak, satu porsi mi kocok dibanderol seharga Rp15.000,00! Kaget kami berlipat ganda saat kami kami mengetahui es jeruk itu dihargai Rp8.000,00 per gelasnya. Rasanya di Jakarta tidak seperti itu. Es jeruk paling mahal saja hanya Rp4000,00. Kami hanya bisa mengikhlaskan saja. Kami melanjutkan perjalanan pulang kami. Di tengah perjalanan ada ruko yang menjual mi kocok dan es jeruk. Di depannya ada papan harga. Dan harga yang tertulis setengah dari harga yang kami bayar tadi. Ah, kami tertipu. Sungguh sialan.
Walaupun sudah kenyang tetapi suasana yang mencekam ini tidak berubah. Kami bingung mengapa pukul sepuluh malam di Bandung sama seperti jam dua pagi di Jakarta. Ada beberapa hipotesis yang kami buat. Pertama, karena maraknya geng motor. Kedua, karena hari ini hari Nyepi. Ketiga, karena ada mitos yang beredar bahwa tidak boleh keluar rumah saat malam hari. Maklum saja orang Bandung yang kebanyakan adalah orang Sunda yang percaya pada pamali. Karena tidak ada geng motor yang lewat dan hari ini bukanlah hari Nyepi, maka hipotesis yang terbukti tentang situasi ini hanyalah karena adanya mitos. Anehnya, di sekitar penginapan masih ramai orang-orang di luar. Mungkin mitosnya tidak menyebar sampai sini. Perjalanan yang jauh membuat kakiku pegal dan telapak kakiku kotor seperti membusuk. Sebelum tidur, kami bermain kwartet terlebih dahulu. Mainan ini cukup populer semasa aku SD dulu. Bahkan, mainan ini sudah mendunia. Mungkin kau sudah lupa dengan permainan ini. Kami memesannya khusus pada abang mainan SD di Jakarta. Kami hanya main satu kali saja lantaran kelopak mata telah sesekali turun menutupi bola mata kami. Itu membuatku menjadi pemenang tunggal. Luthfan dan Shiddiq tidur satu kamar, sementara aku sekamar dengan Alwi. Baru saja aku memejamkan mata, terdengar suara Shiddiq berkata,
"Ah gua lupa beli baju!"
"Ah gua lupa beli baju!"
Exp 9
Mubazir
Mataku masih mengantuk. Di depanku terduduk Alwi, Shiddiq, dan Luthfan yang sedang sarapan. Shiddiq memakai baju keduanya atau berarti baju terakhirnya. Bukan karena tidak suka dengan makanan yang dibeli oleh Luthfan ini aku tidak sarapan. Hanya saja aku lebih terbiasa buang air besar ketimbang sarapan di pagi hari. Karena itu aku masuk ke kamar mandi untuk melakukan hal yang biasa kulakukan. Selesai mandi dan buang hajat, kami berunding menentukan tujuan perjalanan hari ini. Tetapi kami punya satu masalah, peta yang kami gunakan kini tidak bisa dipercaya lagi. Pengalaman semalam membuat kami trauma.
"Ah coba ada GPS." kata Luthfan.
"HP gua ada GPS-nya." jawab Alwi.
Kami kaget mendengar jawaban tersebut.
"Ah dodol kenapa ga bilang dari kemarin!?" balas Shiddiq kesal.
Dengan santai Alwi menjawab,
"Ah coba ada GPS." kata Luthfan.
"HP gua ada GPS-nya." jawab Alwi.
Kami kaget mendengar jawaban tersebut.
"Ah dodol kenapa ga bilang dari kemarin!?" balas Shiddiq kesal.
Dengan santai Alwi menjawab,
"Ya lu ga nanya."
Kawan, betapa aku benci dengan kalimat itu? Sebenci aku pada stasiun televisi yang menayangkan anime atau drama yang tidak sampai tamat. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Jalan Braga lagi karena kami masih penasaran dengan tempat itu. Kali ini kami tidak akan salah lagi karena sudah kami pastikan GPS Alwi telah diatur untuk tahun 2012. Kami naik angkot dan diteruskan dengan berjalan kaki ke sana. Sampailah kami di Jalan Braga yang sesungguhnya.
Wow, jalannya begitu indah, seperti jalan-jalan di luar negeri. Jalannya bukan berupa aspal, melainkan berupa conblock yang tersusun rapi. Sepertinya ini adalah wilayah internasional, Kawan. Karena dekat dari sini berdirilah gedung Konferensi Asia Afrika (KAA). Di sepanjang jalan ini ada banyak sekali toko yang menjual lukisan. Mungkin sasaran pembelinya adalah para turis asing. Selain itu juga berdiri bangunan dengan gaya arsitektur Belanda. Tidak. Aku tidak banyak mengerti tentang arsitektur, Kawan. Hanya saja aku tahu itu karena pada bangunan tersebut terdapat tulisan bahasa Belanda. Sayangnya jalan ini tidak sepenuhnya mulus. Banyak bagian jalan yang rusak, membuat suara kendaraan yang melaju di atasnya menjadi tidak enak didengar. Kami juga masuk ke dalam Braga City Walk, sebuah tempat perbelanjaan di sana. Di dalamnya terlihat indah. Tipikal tempat perbelanjaan pada umumnya. Namun, ada beberapa bagian yang masih dalam tahap pembangunan. Kami lalu keluar dan melanjutkan perjalanan mengitari jalan mewah ini. Tetapi entah mengapa sepi sekali, mungkin karena masih terlalu pagi. Satu-satunya toko yang ramai adalah toko mainan. Di dalamnya banyak mainan-mainan yang berkelas. Dari toko mainan kami melesat ke gedung KAA. Dahulu tempat ini bernama Gedung Merdeka. Sayangnya tempat masih tutup. Lagipula masuk ke gedung ini tidaklah gratis, kerena ini merupakan situs sejarah yang dijadikan museum. Jadi kami hanya melihat luarnya saja. Gedung ini mengingatkanku pada pelajaran sejarah. Di mana pada 57 tahun lalu, tepatnya Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, Sudan mengirimkan utusan untuk menjalin kerja sama meski pada saat itu Sudan belum merdeka. Ada banyak tiang bendera berdiri di pelataran gedung. Hanya saja, tidak ada satu bendera pun yang berkibar. Mungkin kami datang disaat yang tidak tepat. Semua keindahan di jalan istimewa ini jadi terlihat mubazir.

Exp 10
Fantasy Land
Kami semua fokus memperhatikan bangunan di jalan. Kami mencari bangunan dengan tulisan Gonzo di depannya. Gonzo adalah toko yang menjual hal-hal berbau manga dan anime Jepang. Shiddiq meminta kami untuk datang ke tempat ini.
"Gonzo di Jakarta kecil, kalau di Bandung kan pusatnya. Jadi pasti lebih besar dan lengkap." kata Shiddiq yakin.
Ya, tetapi semua keyakinan itu sirna saat melihat faktanya. Ternyata toko itu tidak lebih besar dari ruang kelas di sekolah. Raut wajah Shiddiq menunjukkan bahwa ia kecewa. Karena merasa kasihan aku berusaha menghiburnya.
"Toko ini lebih besar dari cabangnya yang di Jakarta, Diq. Lihat, keramik di lantainya lebih banyak satu baris."
"Eh iya ya."
Ha? Apa iya? Padahal aku tadi hanya mengarang saja. Tetapi tak apalah yang penting ia senang. Aku keluar dan duduk di tangga pintu masuk tanpa membeli apapun untuk menunggu mereka. Tak lama kemudian, Alwi dan Luthfan keluar. Lalu kami berdiskusi menentukan tujuan berikutnya. Saat itulah aku ingat ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi bila datang ke kota ini. Kawan, apa kau pernah menonton acara Game.TV? Itu adalah acara yang ditayangkan setiap hari Minggu pukul delapan malam di stasiun televisi Spacetoon. Kalau pernah, kau pasti tahu bahwa ada sebuah toko mainan besar bernama Vega Fantasy Land di Bandung. Dengan mencarinya melalui GPS, kami memutuskan untuk pergi ke sana setelah ini. Shiddiq akhirnya keluar. Ia membeli sesuatu. Tadinya aku kira itu adalah baju, mengingat ia gagal membeli baju semalam. Tetapi ternyata barang yang ia beli adalah sebuah jam yang rupanya seperti stopwatch. Pada tutup jam tersebut terdapat relief berbentuk huruf L. Kuyakini itu adalah simbol Death Note. Aku sungguh kasihan padanya saat mengetahui bahwa harga jam itu adalah Rp100.000,00. Kawan, kau ingin tahu mengapa aku kasihan? Karena satu bulan kemudian jam itu rusak. Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti pasti aku sudah melarang ia membelinya.
"Gonzo di Jakarta kecil, kalau di Bandung kan pusatnya. Jadi pasti lebih besar dan lengkap." kata Shiddiq yakin.
Ya, tetapi semua keyakinan itu sirna saat melihat faktanya. Ternyata toko itu tidak lebih besar dari ruang kelas di sekolah. Raut wajah Shiddiq menunjukkan bahwa ia kecewa. Karena merasa kasihan aku berusaha menghiburnya.
"Toko ini lebih besar dari cabangnya yang di Jakarta, Diq. Lihat, keramik di lantainya lebih banyak satu baris."
"Eh iya ya."
Ha? Apa iya? Padahal aku tadi hanya mengarang saja. Tetapi tak apalah yang penting ia senang. Aku keluar dan duduk di tangga pintu masuk tanpa membeli apapun untuk menunggu mereka. Tak lama kemudian, Alwi dan Luthfan keluar. Lalu kami berdiskusi menentukan tujuan berikutnya. Saat itulah aku ingat ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi bila datang ke kota ini. Kawan, apa kau pernah menonton acara Game.TV? Itu adalah acara yang ditayangkan setiap hari Minggu pukul delapan malam di stasiun televisi Spacetoon. Kalau pernah, kau pasti tahu bahwa ada sebuah toko mainan besar bernama Vega Fantasy Land di Bandung. Dengan mencarinya melalui GPS, kami memutuskan untuk pergi ke sana setelah ini. Shiddiq akhirnya keluar. Ia membeli sesuatu. Tadinya aku kira itu adalah baju, mengingat ia gagal membeli baju semalam. Tetapi ternyata barang yang ia beli adalah sebuah jam yang rupanya seperti stopwatch. Pada tutup jam tersebut terdapat relief berbentuk huruf L. Kuyakini itu adalah simbol Death Note. Aku sungguh kasihan padanya saat mengetahui bahwa harga jam itu adalah Rp100.000,00. Kawan, kau ingin tahu mengapa aku kasihan? Karena satu bulan kemudian jam itu rusak. Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti pasti aku sudah melarang ia membelinya.
***
Kami berjalan kaki memotong jalan melewati jalan kecil untuk mencapai Vega. Saat hampir sampai kami merasa tidak yakin karena di sekitar kami yang terlihat hanya rumah-rumah besar seperti di komplek. Namun semua keraguan itu hilang saat melihat bangunan dua lantai dengan tulisan Vega Fantasy Land di depannya. Kami terperangah begitu memasukinya. Mainan ada dimana-mana. Ini bukan hanya mainan biasa, ini adalah mainan dengan merk terkenal yang orisinal dan diimpor langsung dari negeri mainan, Jepang. Lebih dari toko mainan yang kami kunjungi di Jalan Braga. Semua mainan ada disini. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang plastik sampai yang elektronik. Dari yang harganya ribuan sampai yang jutaan. Kawan, kurasa tempat ini adalah ‘surga’. Tetapi yang paling indah menurutku dan Luthfan adalah Belt Kamen Rider. Wah, andai saja aku punya uang, aku pasti membelinya. Cukup lama kami bersenang-senang di sini. Ini benar-benar ‘Fantasy Land’.

Exp 11
Janji
Kami makan somay Bandung yang berada tepat di depan Vega. Harga yang pada kertas yang di-laminating cukup membuat kami shock. Bayangkan saja, Rp100.000,00! Tapi setelah membaca lebih teliti, ternyata harga itu untuk lima puluh buah. Itu artinya Rp2.000,00 per buahnya. Kawan, menurutku itu adalah strategi pemasaran yang buruk jiga tidak ingin dibilang gagal. Orang yang tidak teliti membacanya mungkin akan batal membeli. Namun tetap saja, Rp2.000,00 per buah pun tetap saja dirasa mahal. Di Jakarta, satu buah somay dilego Rp500,00. Tetapi itupun terbayar mengingat rasa ikannya terasa sangat mantap. Atau itu hanya rasa buatan dari pabrik? Tetapi apakah ada perisa ikan? Ah, mana mungkin. Lagipula Bandung terkenal dengan somaynya, bukan?
Kami naik angkot menuju ITB. Alwi tampak ribet dengan barang belanjaannya. Ia membeli sebuah baju dan topeng. Ya, topeng. Kau tidak salah membaca, Kawan. Aku juga tidak tahu mengapa ia membelinya. Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Awan mendung menemani perjalanan kami ke ITB. Kini kami berada tepat di depan ITB. Saat menjajaki kaki kami di tanah ini, rasanya begitu mengharukan. Selama ini kami hanya dapat melihatnya melalui gambar di internet. Tetapi kali ini berbeda, kami bisa melihatnya langsung, bahkan menyentuh dindingnya, mendengar suaranya, dan mencium aromanya. Sebenarnya kami juga bisa mengecap rasa dindingnya, hanya saja kami takut diusir. Aku lihat Luthfan yang paling senang. Maklum saja, dia adalah orang yang paling ingin ke sini. Bisa dibilang ia adalah fansnya ITB. Nama fansnya apa ya? ITB Holic? ITB Mania? Atau, ITB Cliquers? Ah, aku ngelantur terus. Setiap kali membicarakan tentang ITB, ia menjadi bersemangat, hidungnya yang besar itu menjadi tambah besar. Setiap hari ia tidak bosan menghasut orang lain untuk melanjutkan kuliah di ITB bersamanya. Ia tidak takut menambah saingan, malah ia menganggapnya sebagai teman seperjuangan. Kurasa ia sudah jatuh cinta kepada ITB. Kau tahu Kawan, ternyata rasa cinta dapat membuat musuh menjadi teman. Melihat suasana yang mengharukan ini ternyata membuat langit menangis terharu. Semua orang berlarian menghindari air mata itu. Kami pun ikut berteduh di koridor ITB. Sambil menunggu langit berhenti menangis, kami berjalan sepanjang koridor ini. Tetapi rupanya koridor ini terus terhubung dengan koridor lain mengelilingi ITB. Jadi semakin panjanglah perjalanan kami. Setelah diperhatikan baik-baik ternyata bangunannya tidak buruk juga. Banyak dinding dan tiang dari batu besar yang abstrak dan sengaja tidak dicat. Mungkin ini adalah seni arsitektur. Institut teknologi memang beda.
***
Tertera nama seseorang pada papan nama di depan pintu dengan gelar yang panjang. Prof. Dr. Ir. Entah seberapa pintar dan tua orang itu. Mungkin orang itu juga botak seperti profesor pada umumnya. Kami mengunjungi beberapa fakultas, tetapi yang membuat kami tercengang adalah SBM. Walaupun kami tidak masuk ke dalam, tetapi perbedaannya sudah terlihat jelas. Bangunan yang lebih mewah dan pintu masuknya seperti pintu masuk mal. Dari pintu kaca yang transparan itu terlihat di dalamnya ada perempuan di balik meja, seperti semacam resepsionis, serta data IHSG terbaru yang menempel di dinding. Mirip seperti pada Bursa Efek Indonesia. Kawan, aku curiga di dalamnya tidak ada tangga. Aku yakin mereka memakai lift. Aku juga curiga ada semacam kasino dan hotel bintang di dalamnya. Hmmm. Mungkin juga ada mal di dalamnya. Ah, tidak-tidak. Mungkin hanya ada supermarket dan bioskop saja. Tetapi yang jelas, di dalamnya pasti ada ballroom dan panggung indoor, karena ada spanduk bertuliskan hari peringatan delapan tahun fakultas mewah ini berdiri. Kami menunaikan salat Zuhur dan beristirahat sejenak di Masjid Salman ITB. Lantainya yang terbuat dari kayu, ruangannya yang luas, dan tempatnya yang berada di lantai dua, membuat masjid ini sangat sejuk. Banyak burung berkeliaran di masjid. Pantas saja ada banyak sekali orang yang tidur di sini. Salat di sini serasa benar-benar sudah menjadi mahasiswa ITB. Hujan telah reda, kami meninggalkan ITB untuk selanjutnya menuju UNPAD. Sebenarnya Shiddiq-lah yang melatarbelakangi kami datang ke tempat ini. Ia berkeinginan melanjutkan sekolahnya ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNPAD. Sialnya, fakultas yang ia ingin kunjungi itu berada terpisah dari sini, tepatnya di Jatinangor. Di sini kami hanya mengunjungi Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, karena tiba-tiba hujan kembali menapak tanah. Kami berteduh dan salat Asar di masjid UNPAD. Walaupun tidak sesejuk masjid ITB, masjid ini cukup nyaman juga. Aku menyimpulkan kalau masjid universitas adalah masjid yang memiliki ‘atrium’. Karena memang bentuk bangunan dalamnya benar-benar tak bersekat, lowong. Mudahnya, hanya memiliki satu ruangan saja. Di sekitar kawasan masjid UNPAD, terlihat beberapa mahasiswa yang sedang pacaran. Mungkin karena ini universitas yang dominan fakultas IPS-nya, ya. Begitu hujan reda kami memutuskan untuk pergi ke tujuan selanjutnya. Kawan, saat meninggalkan tempat ini, ITB dan UNPAD, aku, mungkin kami, berjanji dalam hati,
"Tunggu aku sebentar lagi, aku pasti kembali."
"Tunggu aku sebentar lagi, aku pasti kembali."

Exp 12
Taman Bunga
"Cepat! Cepat! Nanti keburu hilang!"
"Cepat! Cepat! Nanti keburu hilang!"
"Ah sudah hilang!"
"Ayo cepat cari!"
Kami lalu mulai mencarinya. Pencarian ini bermula saat kami memutuskan untuk datang ke Paris Van Java (PVJ) setelah dari UNPAD. Kami penasaran dengan tempat yang bernama unik ini. Sebagaimana penasaran kami dengan akhir cerita sinetron Tersayang. Kami naik angkutan kota yang melaju sesuai arah yang ditunjukkan GPS. Saat sampai di TKP kami tercengang. Ternyata PVJ adalah nama sebuah mal besar. Di dalamnya semua toko dibuat dengan gaya seperti toko di jalanan Paris. Oh, jadi beginilah suasana di Paris. Tetapi apakah memang begitu kenyataannya? Kami hanya mengasumsikannya saja karena toh kami juga belum pernah ke Paris. Lantainya terbuat dari kayu, mungkin hanya dilapisi oleh kayu. Kayunya terlihat seperti kayu mahogani yang mahal itu. Atapnya terbuka. Jadi kau tetap dapat melihat langit dari dalam. Jika hujan turun, maka atapnya akan menutup. Sungguh canggih memang. Hanya saja butuh waktu agak lama untuk menutupnya. Sehingga ada tetesan hujan yang masuk ke dalam dan menggenang di lantai. Bukankah jarang sekali ada kubangan air di dalam mal, Kawan? Selain itu ada juga beberapa bagian yang bocor, sehingga ada ember di jalan untuk menampungnya. Pada embernya bertuliskan, Lion Star dan sebuah coretan coretan spidol, Property of PVJ. Terlepas dari semua itu, tempat ini sangat menakjubkan. Kau tahu kenapa? Karena di sini banyak sekali perempuan cantik. Perempuan berwajah oriental berambut coklat panjang dan berkulit putih. Selain itu mereka juga memakai celana pendek. Kalau tidak, ya rok mini. Daripada disebut Paris Van Java, bagiku ini lebih tepat disebut China Van Java atau Japan Van Java. Korea Van Java juga boleh. Lantaran mereka tersebar dan ada sejauh mata memandang, maka tempat ini bisa disebut ‘Taman Bunga’. Ini adalah taman bunga dari surga. Jika Vega Fantasy Land adalah surga tingkat tiga, maka PVJ adalah surga tingkat tujuh. Tetapi sayang sekali, Kawan. Seperti biasa, wanita cantik selalu sudah memiliki pasangan. Seperti kata pepatah, Tak ada bidadari yang tak bertuan. Bunga-bunga itu sudah memiliki kumbangnya masing-masing. Sedangkan kami hanya seperti kecoa yang menyedihkan. Kami tidak lolos seleksi alam. Kami hanya bisa berjalan berkoloni dengan yang berjenis kelamin sama. Berada di sini membuat hatiku galau. Di satu sisi merasa senang dapat melihat keindahan ciptaan Tuhan, disisi lain merasa sedih melihat kejamnya kenyataan.
"Yan, yang itu mirip YoonA." kata Alwi membuyarkan lamunanku. Aku segera memperhatikan perempuan yang ditunjuk Alwi itu. Ia berada di depan kami. Aku hanya dapat melihatnya dari belakang. Dari belakang ia memang terlihat cantik. Aku penasaran ingin melihat wajahnya. Apakah benar-benar mirip YoonA? Atau Alwi hanya berbohong karena aku adalah fans beratnya YoonA? Walaupun ia ditemani oleh dua orang laki-laki, aku tidak takut untuk meliriknya. Aku mulai berjalan lebih cepat agar sampai di depannya. Ternyata Luthfan juga penasaran. Ia juga mulai berjalan lebih cepat. Alwi lebih penasaran lagi, ia sudah berlari jauh ke depan. Melihat Alwi yang berlari, aku yakin dia tidak berbohong. Aku dan Luthfan pun ikut berlari. Tetapi Shiddiq tetap berjalan lambat. Entah karena ia tidak berminat melihat wajah perempuan itu atau karena ia tidak kuat lari membawa perutnya yang agak besar itu. Karena berlari terlalu kencang aku jadi terlewat. Saat aku berbalik, mereka berbelok. Aku hanya melihat temannya saja. Saat aku mencoba mengikuti, mereka menghilang. Sungguh sialan. Aku bertanya kepada Luthfan bagaimana wajah perempuan itu. Ia bilang kalau perempuan itu seperti artis Korea dan lebih cantik dari ‘First Flower’. Aku tambah penasaran. Aku mencoba mencarinya lagi. Alwi dan Luthfan ikut menemani. Aku rasa mereka ingin melihatnya lagi. Sejak itu, ‘pencarian’ pun dimulai.
"Itu! Itu di tangga!" suara Alwi itu membuatku dan Luthfan melihat ke arah tangga. Ia ada di sana. Kami langsung menaiki tangga. Akhirnya aku dapat melihat wajahnya. Dan drama pun dimulai di sana. Waktu seakan berhenti. Tiba-tiba terdengar suara tuts piano dan Baek Ji Young menyanyikan lagu That Woman. Aku membayangkan Alwi dan Luthfan mengajak kedua teman laki-lakinya itu pergi. Entah apa yang akan mereka lakukan bersama, aku tidak peduli. Karena kini hanya ada aku dan perempuan itu. Baek Ji Young sudah mulai memasuki reff. Lalu aku berkata,
"Maukah kau menjadi kekasihku, Noona?"
Lalu ia tersenyum dan memegang wajahku seraya berkata,
"MIMPI!!!"
Baek Ji Young lalu berubah menjadi Adele dan mulai menyanyikan lagu galaunya. Perempuan itu pun tertawa. "Kekeke…".
"Woi mau kemana?" suara Shiddiq membangunkanku dari imajinasi yang mengerikan itu. Aku melihat sekitar. Perempuan itu telah menghilang.
"Maukah kau menjadi kekasihku, Noona?"
Lalu ia tersenyum dan memegang wajahku seraya berkata,
"MIMPI!!!"
Baek Ji Young lalu berubah menjadi Adele dan mulai menyanyikan lagu galaunya. Perempuan itu pun tertawa. "Kekeke…".
"Woi mau kemana?" suara Shiddiq membangunkanku dari imajinasi yang mengerikan itu. Aku melihat sekitar. Perempuan itu telah menghilang.
Di lantai atas ada sebuah ruangan. Pada salah satu dindingnya ditempeli cermin yang sangat besar. Berkilauanlah pantulan cahaya lampu oranye yang cerah dari setiap sudut dan langit-langit ruangan itu. Di dalamnya ada girlband yang sedang latihan. Karena bukan SNSD, jadi kami tidak melihatnya lebih dekat. Tetapi kalau Cherrybelle, bisa dipertimbangkan. Kami lalu pergi ke lantai paling atas. Perlu kau ketahui, Kawan. Di sana ada arena ice skating. Dan itu abadi, bukan karena ada event tertentu seperti di Margo City. Sungguh menakjubkan. Ini seperti di puncak Mont Blanc, titik tertinggi pegunungan Alpen di daratan Eropa sana. Semuanya es. Luthfan sangat ingin mencobanya. Perihal kantongnya tidak setuju, keinginannya pun kandas. Di lantai paling atas ini juga ada kebun binatang mini dan tempat parkir. Dari atas kita dapat melihat kota Bandung di malam hari. Indah sekali, Kawan. Ini adalah mal terbesar dan terindah yang pernah kukunjungi. Kami pulang saat maghrib. Namun, GPS pada ponsel Alwi telah kehabisan pasokan daya dari baterainya. Untungnya keberadaan kami dengan dengan kantor polisi. Tadinya kami berniat ingin pulang dengan menumpang mobil polisi. Kapan lagi kami bisa, bukan? Tetapi akhirnya kami hanya menanyakan jalan dan rute angkot kepada polisi yang sedang nongkrong di posnya. Tak lupa kami salat Magrib terlebih dahulu di musala kantor polisi.
***
Kami mampir sebentar ke minimarket untuk membeli mi instan dan kornet untuk makan malam, tetapi Shiddiq masih membeli nasi goreng juga. Perutnya memang hebat. Di penginapan, kami mandi, salat Isya lalu makan sambil menonton acara Stand Up Comedy di televisi. Itu adalah episode terlucu yang pernah kami tonton. Lelahnya tubuh mampu menyihir kami untuk tidur dalam sekejap. Seperti kemarin, terdengar suara Shiddiq di kamar sebelah berkata,
"Gua lupa beli baju lagi!"
"Gua lupa beli baju lagi!"

Exp 13
Neverland
Hari ini kami berkemas. Saatnya kami untuk pulang. Tampak Shiddiq memakai baju yang ia pakai dalam perjalanan kemarin. Tidak, aku tidak menciumnya. Kami meminta izin pulang dengan sang pemilik penginapan. Mereka justru meminta kami menginap semalam lagi. Gratis katanya. Entah itu sekedar basa-basi atau sungguhan, aku tidak tahu. Yang jelas kami tidak bisa menerimanya, karena kantong kami berkata bahwa mereka tidak kuat jika harus di sini semalam lagi. Bagaimanapun juga walaupun tidur gratis, tetapi makan tetap bayar, kan? Saat meninggalkan gerbang penginapan, aku merasa sedih. Aku berpikir apa aku akan ke sini lagi nanti? Walaupun ingin rasanya itu tidak mungkin. Karena di depan rumah ini tergantung papan bertuliskan dijual. Aku jadi merasa bersalah, mungkin ini salahku. Kuberitahu kau satu rahasia, Kawan. Orang bilang aku ini punya ‘sentuhan’ istimewa. Setiap kali aku membeli atau memakai jasa suatu toko, maka dalam beberapa hari toko itu akan ‘berubah’. Suatu hari aku membeli snack di sebuah minimarket, beberapa hari kemudian toko itu berubah menjadi toko material. Aku juga pernah menyewa komik di sebuah toko penyewaan komik. Tak lama kemudian toko itu berubah menjadi toko jaket. Yang paling parah adalah warnet. Setiap warnet yang kukunjungi selalu saja berubah menjadi toko yang lain setelahnya. Pernah aku datang ke suatu warnet. Aku tidak main, hanya bertanya apa ada yang komputer yang kosong. Esoknya warnet itu berubah menjadi warteg. Karena itu rumah ini dijual pun mungkin adalah salahku. Tetapi aku benar-benar tidak bermaksud ‘merubahnya’.
***
Kami naik angkot dan melesat ke toko merchandise grup musik Peterpan. Alwi meminta kami menemaninya ke sana. Ia adalah seorang Sahabat Peterpan. Tidak. Ia tidak mengenal dekat personil Peterpan. Sahabat Peterpan adalah sebutan untuk fans Peterpan. Kami tiba di toko itu sebelum salat Jumat dimulai. Toko ini hanya seperti ruko kecil saja. Bahkan lebih kecil dari Gonzo. Di dalamnya penuh dengan benda yang berbau Peterpan. Mulai dari pin, stiker, dompet, topi, baju, jaket, dan tas. Mungkin ini adalah ‘Neverland’. Aku hanya melihat-lihat saja. Selain tidak punya uang untuk membeli, aku juga tidak ingin membuat toko ini ‘berubah’. Alwi membeli stiker, topi, dompet, dan kaos. Kami terkejut karena ternyata kantongnya masih tebal. Tetapi yang membuat kami lebih terkejut adalah ia membayar dengan beberapa lembar uang 20.000-an. Kuberitahu kau satu rahasia lagi, Kawan. Di kamarnya, lebih tepatnya di atas meja komputer, di dekat keyboard, Alwi menaruh uangnya. Ada banyak sekali jumlahnya, bahkan kalau kau ambil sedikit pun ia takkan sadar. Dan kebanyakan dari uang-uang itu adalah nominal Rp20.000,00. Aku curiga ia ke Bandung hanya dengan membawa tumpukan uang itu. Bahkan mungkin tidak semuanya. Aku berpikir, kalau mungkin ia membaca ini, pasti ia akan segera menyimpan uangnya di tempat yang aman.
Kami salat Jumat di masjid yang berada di depan toko itu. Kawan, ternyata ada masjid di ‘Neverland’.

Exp 14
Last Flower
Usai salat Jumat, kami berjalan menuju Gedung Sate. Walaupun berjalan dengan membawa tas kami yang berat, tetapi kami tidak merasa lelah. Kaki kami sudah terlatih. Berada di Bandung selama tiga hari membuat betis kami bak betis atlet. Bahkan Shiddiq pun menjadi agak kurus. Ini semua karena sistem one way yang berlaku di Bandung membuat kami harus berjalan kaki bila berlawanan arah dengan arah kendaraan. Dan arah perjalanan kami hampir selalu berlawanan arah dengan arah kendaraan. Sungguh sialan. Di tengah jalan, Shiddiq membeli sebuah baju yang dijajakan dipinggir jalan. Raut muka bahagia terpancar dari wajahnya yang bulat. Mirip sekali seperti bayi yang tertawa di dalam matahari pada acara Teletubbies. Ia segera mengganti bajunya yang kumal dengan baju yang baru ia beli itu.
Kami juga singgah di Stadion Siliwangi. Saat ingin masuk ke dalam stadion, kami dimarahi dan diusir oleh TNI. Padahal ada seorang pria asing yang diizinkan masuk. Mungkin karena kami masih remaja. Walaupun stadion ini milik TNI, tetapi tidak perlu begitu juga, kan? Pandangan baik kepada aparat keamanan yang sudah susah payah dibangun oleh polisi di PVJ yang memberitahu jalan, dirusak dalam sekejap oleh TNI ini. Tetapi bukankah polisi dan TNI adalah institusi yang berbeda? Ah, peduli sekali dengan pernyataan tersebut. Dengan rasa kesal kami pergi dari situ. Saat hampir tiba di Gedung Sate, kami bertemu dengan seorang perempuan yang berjalan bersama kedua teman laki-lakinya. Perempuan itu tidak asing lagi. Tiba-tiba terdengar suara piano. Drama itu pun dimulai lagi. Baek Ji Young pun menyanyi kembali. Aku akan membunuhnya jika ia berubah menjadi Adele lagi. Alwi dan Luthfan kembali mengajak dua pria itu pergi. Tetapi ada yang lain dari sebelumnya. Kini kami tidak hanya berdua. Di sini masih ada Shiddiq. Belum sempat aku menyuruhnya pergi, Ia sudah maju mendekati perempuan itu. Ia lalu mengajak perempuan itu pergi. Aku membeku. Kini aku hanya berdua bersama Baek Ji Young. Kami saling menatap. Dan tiba-tiba ia berubah kembali menjadi Adele. Namun lebih buruk dari sebelumnya. Arrrgghh. Aku segera mengambil penggaris besi dari tasku, lalu membunuhnya. Tetapi ternyata dia immortal! Dia pun tertawa lagi, "Kekeke…". Hal itu membuatku menjadi gila.
"Cewek yang tadi itu yang kemarin di PVJ kan?" suara Luthfan membangunkanku dari imajinasi buruk itu. Aku melihat sekeliling. Perempuan itu sudah tidak ada. Aku lihat Shiddiq masih bersama kami. Syukurlah.
"Sepertinya itu adalah 'kembang' terakhir yang akan kita lihat." kata Luthfan.
"Sepertinya itu adalah 'kembang' terakhir yang akan kita lihat." kata Luthfan.
Kembang terakhir ya. Berarti ia adalah ‘Last Flower’.

Exp 15
Garuda
Setelah peristiwa itu, kami terus membicarakan tentang ‘Last Flower’. Kawan, ‘Last Flower’ telah memenuhi hampir semua memori otakku. Karena itulah aku harus menghapus memori yang lain. Memori yang kuhapus adalah memori pelajaran. Sekarang kau tahu mengapa nilai Try Out-ku sangat buruk. Diantara kami hanya Shiddiq yang tidak setuju kalau ‘Last Flower’ lebih cantik dari ‘First Flower’.
"Cantikkan 'First Flower' lah sob. Lebih jelas."
"Memangnya 'Last Flower' ga jelas?"
"Iyalah ga jelas. Gua kan ga pake kacamata ngeliatnya. Kalo 'First Flower' kan jaraknya deket, jadi masih jelas."
"Lah iya lu ga pake kacamata dari hari pertama ya. Napa? Ga bawa?"
"Ga tau dah bawa apa nggak."
"Coba periksa di tas lu."
Lalu Shiddiq pun memeriksa tasnya, dan ternyata,
"Ah sialan ada lagi."
"Lagian ga dicari dulu."
Kami semua tertawa. Tapi hal itu membuatku penasaran untuk menanyakan sesuatu.
"Diq, lu liat ada banyak 'kembang' di PVJ kemarin ga?"
"Liat sedikit doang, soalnya yang jaraknya dekat doang yang jelas".
"Cantikkan 'First Flower' lah sob. Lebih jelas."
"Memangnya 'Last Flower' ga jelas?"
"Iyalah ga jelas. Gua kan ga pake kacamata ngeliatnya. Kalo 'First Flower' kan jaraknya deket, jadi masih jelas."
"Lah iya lu ga pake kacamata dari hari pertama ya. Napa? Ga bawa?"
"Ga tau dah bawa apa nggak."
"Coba periksa di tas lu."
Lalu Shiddiq pun memeriksa tasnya, dan ternyata,
"Ah sialan ada lagi."
"Lagian ga dicari dulu."
Kami semua tertawa. Tapi hal itu membuatku penasaran untuk menanyakan sesuatu.
"Diq, lu liat ada banyak 'kembang' di PVJ kemarin ga?"
"Liat sedikit doang, soalnya yang jaraknya dekat doang yang jelas".
Kami tertawa lagi. Aku sudah kasihan dengan ‘tragedi’ bajunya. Tetapi ini lebih menyedihkan lagi. Akhirnya aku tahu mengapa ia tidak berlari mengejar ‘Last Flower’ pada waktu itu. Shiddiq, ia seperti serangga yang tidak melihat bunga di taman bunga. Sungguh kasihan. Berjalan dengan tawa dan rasa kasihan, akhirnya membuat kami tiba di Gedung Sate. Tetapi karena takut harus membayar uang masuk, kami tidak jadi masuk ke dalam. Akhirnya kami pun melanjutkan, maksudku berbalik arah berjalan ke terminal. Sungguh perjalanan yang sia-sia. Hingga sampai sekarang aku tidak tahu apakah masuk ke dalam Gedung Sate itu bayar atau tidak. Di tengah perjalanan menuju terminal, kami terkejut karena melihat burung aneh yang terbang. Burung ini mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk terbang, suara kepakkan sayapnya sangat keras. Tetapi burung ini kemudian jatuh. Lalu tak lama kemudian, burung ini terbang lagi, dan jatuh lagi. Karena penasaran kami mendekati burung itu, ternyata burung itu adalah mainan yang terbuat dari plastik dan karet. Burung ini dapat terbang dengan memanfaatkan energi potensial pada karetnya. Kreatif sekali. Mungkin pembuatnya adalah abang-abang SD. ‘Garuda’ Bandung ini dijual seharga Rp15.000,00. Mahal sekali untuk sebuah mainan anak-anak. Tetapi siapa bilang ini mainan anak-anak? Walaupun harganya dipatok selangit, Luthfan dan Alwi tetap membelinya. Karena membeli dua buah, harganya dipotong menjadi Rp25.000,00. Mereka berdua sangat senang karena merasa untung. Kawan, Suatu saat kau harus membelinya juga.
Kami tiba di terminal bersamaan dengan datangnya awan gelap. Kami pulang dengan menaiki bus MGI jurusan Bandung – Depok. Harga tiketnya Rp45.000,00 per orang. Kali ini aku dan Alwi mendapatkan kursi kami. Tidak ada lagi ibu-ibu egois yang merebut kursi kami. Selain itu kami juga mendapatkan minuman gratis. Walaupun hanya minuman teh gopekan, tapi ini cukup untuk melepaskan dahaga. Kawan, ternyata naik bus itu tidak terlalu buruk. Luthfan sok tahu kalau kami akan tiba di Jakarta pukul empat sore. Saat bus mulai bergerak, hujan pun turun. Ternyata langit pun menangis melihat kepergian kami. Ya ya aku tahu, langit. Aku pun merasa sedih harus pergi. Tapi tenang saja, kita pasti akan bertemu lagi. Aku akan merasakan udara sejukmu itu lagi. Pasti. Sok tahu Luthfan benar-benar tak terbukti. Kami tiba di Jakarta pukul setengah delapan malam karena terjebak macet. Kawan, sok tahu memang selalu salah. Baru saja sampai, kami terserang ‘mabuk Jakarta’. Perasaan tidak enak berada di Jakarta karena masih teringat keindahan kota sebelumnya yang lebih baik. Sama seperti saat tiba di Bandung, kami memastikan tiga hal bahwa kami sudah berada di Jakarta. Pertama, alamat-alamat toko di jalan menunjukkan lokasi Jakarta. Kedua, bahasa orang-orang sekitar kasar dan beraneka ragam, sudah jelas ini Jakarta. Ketiga, pelat nomor kendaraan di jalan hampir semua berawalan huruf ‘B’. Apa kalau bukan Jakarta? Apalagi melihat wajah wanita yang lewat di jalan dan ekspresi ‘Garuda’ yang merasa sudah tidak berada di habitatnya lagi semakin meyakinkan bahwa kenyataan memang pahit, tetapi kami memang sudah tidak berada di Bandung lagi.

Epilog
Everlasting Beauty
Tiga bulan sudah berlalu sejak kami ke Bandung. Tetapi kami masih ingat pengalaman itu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, Kawan. Nilai Try Out-ku hancur karena memikirkan ‘Last Flower’. Shiddiq berduka karena jam yang dibelinya di Bandung itu sudah rusak. Aku ingat sejak dari Bandung ia selalu memintaku menanyakan jam padanya, dan dia dengan bangga menunjukkan jamnya itu. Tetapi suatu hari saat aku menanyakan jam padanya, ia justru bersedih. Dan sejak itu aku tidak pernah menanyakan jam padanya lagi. Sebaiknya kau juga jangan bertanya, Kawan. Alwi dan Luthfan juga berduka. Bukan karena ‘Garuda’-nya mati, tetapi karena kemudian mereka tahu bahwa harga sebenarnya mainan itu hanya Rp5.000,00. Informasi itu diterima dari kakaknya Luthfan. Kawan, saat kau merasa untung, mungkin sebenarnya kau merugi.
Aku merenung mengingat awal dari semua ini. Saat itu awal kelas XII. Seperti biasa, usai sekolah kami berkumpul di masjid sekolah. Saat itu kami sedang membicarakan PTN. Seperti kata orang bahwa kelas X itu galau jurusan, kelas XI itu galau pacaran, dan kelas XII itu galau PTN. Seperti biasa, Luthfan mengeluarkan doktrinnya. Ia menghasut kami agar masuk ITB bersamanya. Aku dan Alwi yang belum tahu akan kuliah dimana mulai terpengaruh. Hanya Shiddiq yang tidak mempan dengan doktrin tersebut, maklum ia anak IPS.
Kami ingin melihat langsung tempat itu, seperti semacam survei lokasi. Selain itu kami juga bisa berlibur. Seperti peribahasa, Sambil berwudu minum air. Akhirnya sejak saat itu kami pun mulai menabung, memakai uangnya, dan menabung lagi. Aku sempat ragu apakah akan pergi atau tidak. Bahkan Ilman mengajakku taruhan. Dia bilang aku takkan pergi. Karena masih ragu, aku tidak menerima ajakkan taruhan tersebut. Kalau saja aku tahu akhirnya aku pergi, aku pasti sudah menerima taruhan tersebut. Andai saja aku tidak pergi, mungkin aku akan menyesal saat mendengar cerita dari Alwi, Luthfan, dan Shiddiq saat kembali dari sana. Terutama cerita tentang ‘First Flower’ dan ‘Last Flower’, juga tentang taman bunga PVJ dan Vega Fantasy Land. Pokoknya aku akan sangat menyesal bila tidak pergi ke sana. Kusarankan kau juga pergi ke sana, Kawan. Tadinya aku tidak bisa menyebutkan kata yang tepat untuk menjelaskan keindahan tempat itu. Namun, saat perjalanan menuju terminal, terpampang sebuah tulisan di papan iklan besar yang berdiri di pinggir jalan. Tulisan itu menjelaskan semuanya. Di sana tertulis:
Bandung, Everlasting Beauty.

♦♦♦



