Poin Terakhir
Minggu, 31 Juli 2011

Pada waktu itu sedang marak-maraknya undian berhadiah es krim Walls. Kami bertiga, Alwi, Reyan, dan Luthfan tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Kami mengikuti undian ini dengan mencari stik es krim sebanyak-banyaknya dengan cara apapun untuk mengumpulkan poin yang tertera di permukaan stiknya. Mulai dari membeli es krim langsung, meminta stik bekas orang lain, sampai memungut stik yang sudah jatuh tak peduli di manapun berada (selokan juga termasuk). Stik yang sudah terkumpul ditukarkan di Timezone.
Setelah dirasa cukup banyak, kami harus segera menukarkan poin tersebut sebelum batas waktunya, yakni 31 Juli 2011. Penukaran kami lakukan tepat di tanggal tersebut. Kami bertiga berencana untuk bertemu di Depok Town Square.
Semua sudah berkumpul. Masing-masing dari kami membawa tas yang biasa digunakan untuk sekolah. Kami bergegas masuk ke dalam dan mengarah ke Timezone. Kami membuka tas masing-masing dan menyerahkan stik es krim yang sudah dikumpulkan untuk disimpan di dalam tas Luthfan. Kami menghitungnya terlebih dahulu. Total poin yang berhasil kami kumpulkan adalah 55 poin. Melihat informasi yang tertera di papan iklan, kami memutuskan untuk menukarkannya dengan kartu isi ulang Timezone bergambar Paddle Pop. Malangnya, stok hadiah kartu sudah habis. Penjaga toko menyarankan pada kami untuk menukarkan stik es krim kami di Margo City. Margo City terletak di seberang Depok Town Square.
Tak kenal lelah kami berlari untuk sampai kesana. Menyusuri eskalator, menembus geliat manusia yang berada di jembatan penyebrangan, berlari di pelataran Margo City, hingga akhirnya sampai ke Timezone Margo City yang berada pada lantai paling atas. Kami menghela napas.
Di sana kami mendapatkan dua buah kartu isi ulang Timezone yang masing-masing bernilai dua puluh poin. Kartu diambil oleh Reyan dan Luthfan. Mereka berdua beranggapan bahwa merekalah yang menyumbang poin paling banyak. Sementara lima belas poin sisanya diberikan kepada Alwi. Alwi yang tak mau didiskriminasikan segera menuntut untuk mencari lima poin lagi.
Teringat di tempat tersebut terdapat supermarket yang berada pada lantai paling bawah, kami segera menuntaskan permasalahan ini dengan cara membeli es krim. Pada awalnya Reyan dan Luthfan enggan membantu. Namun karena rasa kekeluargaan Lessgen yang begitu melekat pada diri Reyan dan Luthfan, mereka pun segera membantu Alwi.
Kembali kami berlari menyusuri eskalator sampai pada supermarket tersebut. Kami berasumsi bahwa membeli empat buah es krim bertotal harga Rp10.000,00 hasil patungan sudah cukup untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, semua poin yang tertera pada masing-masing stik yang baru kami beli adalah satu poin!
Itu berarti masih bersisa satu poin lagi. Tanpa pikir panjang Alwi segera membeli sebuah es krim dengan uangnya. Terteralah tiga poin pada es krim yang dibeli Alwi. Tentu saja ia sangat senang. Tapi… kami bingung menghabiskan semua es krim yang kami beli. Kami memaksa untuk memasukkan ke mulut kami masing-masing dan pada akhirnya kami membuangnya. Sayang sekali.
Tanpa mencucinya, kami segera naik ke lantai paling atas untuk menukarkan poin sisanya. Mbak-mbak penjaga terlihat jijik memegang stik yang baru kami dapatkan. Terlihat bahwa mereka hanya memegang ujung dari stik tersebut ketika menghitung poinnya. Kami hanya tertawa melihatnya. Lebih dari itu, kami masing masing mendapat satu buah kartu timezone bergambarkan Paddle Pop yang sangat langka. Ya, karena hanya pada saat undian ini saja kartu ini diproduksi. Usaha kami yang berat terbayar dengan kartu itu. Kami lalu bergegas pulang.
Dirumah, Alwi membuka tasnya untuk memasukkan buku pelajaran yang akan dibawa esok Senin. Di sanalah terselip sebuah stik es krim yang bernilai tiga poin.

Kawan, telitilah dalam segala hal.