Survival
Sabtu, 14 Mei 2011

Universitas Atma Jaya adalah tujuan dari Ekspedisi Lessgen yang pertama sejak dibentuk. Kami pergi bukan tanpa tujuan apapun. Kami datang untuk menghadiri acara Korean Festival 2011 yang diselenggarakan di Universitas Atma Jaya. Ariz bersama grupnya, Boys’ Generation (BOGE), turut meramaikan acara tersebut.
Perjalanan dimulai dari rumah Ariz. Di sana kami berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatu. Rumah Ariz layaknya basecamp bagi Lessgen. Banyak peristiwa penting Lessgen yang diadakan dirumah Ariz. Ariz memberikan biskuit crackers. Lantas kami menertawainya. Segera saja biskuit tersebut dimasukkan ke dalam tas Reyan. Anggota BOGE yang lain sudah menunggu di Universitas Atma Jaya.
Dari rumah Ariz kami berjalan menuju Mangga Besar. Disambung dengan menaiki bus Kopaja 605A yang langsung menuju lokasi. Sesampainya, kami bingung karena ternyata anggota BOGE yang lain belum datang. Kami membeli kue cubit dan kue jaring laba-laba (makanan SD) untuk mengganjal perut.
Anggota BOGE yang lain pun datang. Ariz segera bergabung dengan BOGE sementara kami berempat kembali bingung. Mendengar suara ribut dari aula, kami masuk saja, dan ternyata memang di sanalah acaranya diadakan.
Acara dimulai dengan kuis. Kira-kira kuisnya seperti ini: “Siapa yang paling banyak tahu tentang Korea dan kroni-kroninya dialah yang menang”. Dimulai dengan menebak MV Korea yang diputar. Lantas saja Tole mengangkat tangan karena memang dia yang paling tahu diantara kami berempat. Tiga MV yang berbeda diputar untuk mengambil tiga orang yang berhak maju kebabak selanjutnya. Dan babak selanjutnya adalah menyanyikan lirik lagu yang hanya diputar instrumennya saja. Lagi-lagi, Tole dengan kemampuannya berhasil menyanyikan liriknya dan mengantarkan dirinya menjadi juara pertama.
Hadiahnya… Sebuah CD! Isinya… MV orisinal yang dibajak dari CD aslinya.
Kami senang karena ini merupakan prestasi pertama dari Lessgen. Sebuah prestasi yang layak dimasukkan dalam buku rekor. Tentunya bukan buku rekor MURI atau Guinness, ya. Acara berikutnya adalah pelajaran bahasa Korea gratis. Sebenarnya bukan gratis. Ini hanya demo kursus bahasa Korea. Kami yang tak peduli dengan pelajaran tersebut hanya bercanda-canda saja dan kemudian ditegur oleh orang dibelakang kami yang ‘terlihat’ sedang serius memperhatikan dan mencatat.
Sebenarnya ada yang menarik di acara ini. Yaitu MC perempuannya yang [You Know What I Mean]. Kami sangat berambisi untuk memotretnya. Namun, akibat banyaknya aral yang melintang, kami hanya mendapat potret MC laki-laki yang ngondek. Juga tak luput dari kamera seorang MC perempuan yang lain dan para peserta kuis. Perjuangan kami tidak sampai di sana saja. Ternyata MC perempuan yang ‘itu’ adalah penjaga stand es krim Korea! Tak kenal malu, kami berniat untuk membeli es krim tersebut. Negoisasi dimulai, rencana disusun. Kami membeli untuk sekedar bercakap-cakap dan mendengar suaranya yang indah.
Sampai disana, sebenarnya kami ingin membeli es krim Korea yang cara makannya disedot seperti anak kecil yang gagal mendapatkan undian karena meleset satu digit angka itu. Namun, es krim tersebut sudah habis. Sebagai gantinya kami membeli es krim rasa kacang merah yang dilego seharga es krim Walls Magnum ditambah Rp2.000,00. Rencana sukses. Kami puas walaupun tidak mendapatkan potretnya.
Di dalam kami kelaparan, kami berencana membeli makanan khas Negeri Ginseng ini, Tteokbokki. Melihat rupanya yang buruk yang diletakkan dibawah kursi bekas seseorang, kami tidak jadi  membelinya. Kami membuka biskuit crackers yang dibawa dari rumah Ariz. Perlu kalian ketahui biskuit ini tidak memakai rasa sama sekali. Gula pun tudak ada di permukaannya. Benar-benar hambar. Tak kuasa menahan hambarnya, biskut kami masukkan kedalam tas Alwi tanpa menutupnya terlebih dahulu.
Kami semakin antusias mengingat adanya kru stasiun TV O Channel yang sedang meliput untuk acaranya yang bernama Topkpop. Kami sangat senang karena kami berhasil masuk TV meskipun hanya rambutnya saja. Ya, hanya rambutnya. Lain ceritanya dengan Ariz yang sukses diwawancarai bersama BOGE-nya.
Siangnya, ada acara yang yang membuat kami bosan. Sebenarnya bukan acara penting, hanya memutar film Korea yang tidak kami mengerti. Acara tersebut dipakai untuk mengisi kekosongan sebelum acara inti diadakan. Kami yang bosan dengan film tersebut keluar dari Universitas dan mengarah masuk ke Plaza Semanggi untuk makan siang. Di pintu masuk mall, tas kami diperiksa oleh petugas keamanan. Ia membuka tas kami satu persatu. Di dalam, langsung saja alwi tertawa mengingat biskuit crackers yang belum ditutup.
Tole berniat mentraktir kami. Ia mengeluarkan kartu ATM-nya dan mencari loket ATM. Plaza Semanggi yang notabene adalah mal para artis (kami bertemu grup lawak Bajaj), tidak menyediakan ATM dengan penarikan uang dibawah nominal Rp200.000,00. Sontak kami kaget karena uang yang ada di ATM Tole hanya sekitar Rp180.000,00. Acara traktir tidak jadi. Berniat untuk membeli dengan uang masing-masing, tapi sayang. Akhirnya kami tidak jadi makan siang dan hanya melihat-lihat isi Plaza Semanggi.
Sampai ke acara inti yaitu kontes cover dance lagu Korea. Kami sangat terkesima dengan semua peserta yang ikut. Yang paling membuat kami kagum adalah grup Seoul Dancer. Gerakannya yang cepat serta formasi dan pola-pola yang unik sukses mengantarkan grup tersebut ke podium juara pertama. Sementara Ariz dan BOGE-nya menempati posisi ketiga.
Lelah, kami pun pulang dengan menaiki bus oranye bernomor 640 di depannya. Ariz pulang bersama BOGE-nya. Di dalam bus kami kelaparan akibat terlalu banyak bercanda saat acara tadi. Ingat biskuit crackers yang dibawa tadi, kami menelannya walau tak berasa apapun. Crackers tersebut layaknya P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan) bagi kami. Reyan yang teringat membawa nasi uduk pemberian Ibunya, segera memakannya dan membagikannya pada kami.
Hujan turun dengan derasnya. Sampai di Pasar Minggu kami bertiga turun dari bus dan segera menepi. Tole tidak turun karena harus melanjutkan perjalanan. Di Pasar Minggu kami menemukan permainan menarik. Permainan tersebut kami namai: 'Survival Hujan'. Permainannya mirip seperti game Counter Strike pada komputer. Kami memungut gelas plastik bekas minuman untuk menahan laju air hujan yang menimpa kepala kami (sebenarnya tidak berpengaruh sama sekali). Gelas plastik tersebut berperan layaknya Shield pasukan Counter Strike. Ada anak kecil yang terlelap tidur di bahu ibunya yang kami lihat seperti pejuang yang gugur di medan perang. Ada juga yang terkena guyuran air yang terkumpul di atap tenda sebuah warung yang kami lihat orang tersebut terkena bom oleh pasukan Terrorist. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian menyenangkan yang kami alami. Sayang Ariz dan Tole tidak ikut berperang bersama kami. Permainan dihentikan mengingat hujan yang sudah reda. Dan kami pun pulang kerumah masing-masing.
Sesampainya dirumah masing-masing, Reyan mengirim SMS untuk memberitahukan kami bahwa Ibunya mengatakan nasi uduk yang kami makan tadi telah basi.