From M to S

Jumat, 22 Juli 2011

Ekspedisi Lessgen yang kedua adalah menuju tempat perbelanjaan di bilangan Taman Puring. Kami berniat membeli sepatu dance untuk Lessgen. Hanya Luthfan dan Ariz sangat bersemangat untuk membelinya. Sementara yang lainnya menolak keras ide ini layaknya para demonstran menolak kenaikan harga BBM. Sebenarnya ekspedisi ini juga dilakukan untuk memperingati Tole yang berulang tahun ke-17. Tole berjanji akan mentraktir kami.
Ekspedisi tetap dilakukan. Ekspedisi dimulai sepulang sekolah. Hari Jumat adalah hari ekspedisi bagi Lessgen mengingat hari Jumat murid-murid dipulangkan lebih awal dari hari biasanya. Bel tanda jam pelajaran berbunyi. Kami bergegas keluar sekolah dan mencari kendaraan menuju Pasar Minggu untuk menunaikan salat Jumat. Di Pasar Minggu, kami mendengar alunan ayat suci Al-Quran yang menandai bahwa masjid sudah dekat dengan kami. Tanpa diduga, suara berasal dari speaker yang dipasang di sebuah gedung bioskop yang sudah tak terpakai lagi. Kami segera masuk ke dalam gedung tersebut. Di dalamnya terisi berbagai macam penjual pakaian. Berkat ‘insting’ Luthfan, kami berhasil melewati ‘labirin’ gedung dan kami menemukan masjid tersembunyi tersebut berada pada lantai paling atas.
Setelah itu, Kami segera berangkat naik kopaja berlabelkan angka 614 pada kacanya. Di dalam bus, Kami mengambil posisi tempat duduk paling belakang. Luthfan duduk di dekat pintu tepat di sebelah kernet yang terlihat kumal. Alwi duduk disebelahnya.
“Wi, pindah yuk. Keneknya bau ketek.” bisik Luthfan pada Alwi.
Alwi hanya tersenyum-senyum dan segera pindah bersama Luthfan di deretan kursi tengah yang masih kosong. Malangnya deretan kursi yang mereka tempati itu sangat sempit sehingga lutut mereka terjepit oleh bangku di depannya. Sementara kursi yang lain tidak ada yang kosong keduanya.
Sampai di wilayah Warung Buncit, sopir bus ini menjadi liar layaknya sedang memainkan game besutan Electronic Arts: Need For Speed: Most Wanted. Semua mobil dilewatinya termasuk menerobos jalur busway. Di kejauhan sana terlihat bayangan seorang polisi yang jatuh di retina kami. Polisi itu sedang menilang pengendara motor yang melintas di jalur busway.
Tak mau dirugikan, kernet menyuruh semua penumpang untuk pindah ke bus lain yang berjurusan sama agar tidak terkena tilang. Penumpang lain terlihat setuju karena mereka juga tak mau mengorbankan nyawanya hanya karena balapan liar sendirian ini. Sehingga di dalam bus hanya tersisa kami, kernet, dan sopir. Kami tidak ingin turun, karena kami sangat menikmatinya. Selain kami dapat cepat sampai tujuan, Alwi dan Luthfan juga dapat berpindah tempat duduk. Berkat kenekatan sang sopir, kami berhasil melewati polisi tersebut.
“Hahaha polisi bego polisi bego.” teriak kernet berbau tak sedap itu.
Kami tertawa saja mendengar kegembiraannya. Tetapi tak lama kemudian kami terkena juga pemindahan paksa menuju bus yang berjurusan sama. Sialnya, kami dipindahkan menuju bus yang di dalamya terdapat gerombolan manusia yang kiranya mampu mengempiskan ban bus tersebut.
Keluar bus tibalah kami di Taman Puring. Segera kami memilih sepatu yang diinginkan. Sekali lagi saya tekankan, yang berniat hanya Ariz dan Luthfan saja. Entah karena sepatunya yang jelek semua atau mereka berdua yang tidak pandai memilih, tak ada sepasang sepatu pun yang mereka beli.
Pencarian dihentikan, kami segera mengarah menuju 7 Eleven untuk membeli makanan. Di dalamnya tak satupun orang cacad yang kami temui. Semuanya adalah orang gaul yang berkelas. Gayanya, pakaiannya, ponselnya, semuanya serba gaul. Melihat orang-orang tersebut kami segera membeli makanan agar tak terlihat kampungan. Alwi, Reyan, dan Tole membeli Chicken Katsu, sementara Ariz dan Luthfan membeli Hot Dog porsi besar. Tole mentraktir kami berempat.
Entah karena tak melihat atau apa Alwi lupa mengambil sendok yang berada di sebelah kasir. Malas mengambil, ia segera menggunakan sendok alami pemberian Tuhan. Tangan. Ya, tangan. Segera saja para anggota Lessgen tergaul, Tole, mencagahnya. Ia memberikan sendok yang telah ia pakai kepada Alwi. Tak lupa kami membeli minuman khas dari 7 Eleven, Slurpee. Alwi, Reyan, dan Luthfan terlihat sangat norak memakai mesin Slurpee. Tole mengajarkannya. Yang anehnya kenapa ada nasi goreng di dalam kulkas?
Untuk makanan penutup kami membeli makanan ringan. Di 7 Eleven, semua makanan ringan bisa ditambahkan krim keju atau saus sambal bersuhu 60o C. Puas dengan semua makanan dan minuman kami kebingungan harus kemana. Karena saat itu masih pukul tiga sore.
Ariz mengusulkan untuk kesebuah supermarket yang menjual makanan Korea yang bernama Mu Gung Hwa. Menurut informasi yang didapat dari teman Ariz, supermarket tersebut berada daerah Blok S. kami berencara untuk membeli es krim Korea yang cara makannya disedot (simak cerita Atma Jaya sebelumnya).
Kami berpikir apakah Blok S itu jauh dari Taman Puring. untuk itu kami menunggu bus yang mengarah ketempat tersebut. Anehnya Tole dan Ariz menunggu di rambu dilarang berhenti. Otomatis, Tidak ada bus pun yang mau berhenti. tetapi ternyata diketahui bahwa tidak ada bus yang mengarah langsung ke sana. Akhirnya kami naik bus dahulu untuk mengarah ke Blok M. Sesampainya, kami bertanya pada ibu penjual gorengan. Ia mengatakan bahwa Blok S berada jauh dari tempat kami berdiri. Ia menyarankan kami untuk naik bajaj yang berada di sebelahnya. Yang sebenarnya naik bus pun bisa.
Kami tak mengindahkan peringatan tersebut. Segera saja kami putuskan untuk berjalan dari Blok M sampai Blok S. Sialnya ketika baru beberapa langkah, hujan turun. Kami berteduh di sebuah masjid untuk sekaligus menunaikan salat Asar.
Hujan reda, hal-hal yang menarik mulai berdatangan. Mulai dari pelangi, polisi yang bermain Solitaire di komputer, sampai sepatunya Alwi yang terkena rabies (berbusa). Mengapa demikian? Bisa disimpulkan karena hasil dari mencuci sepatu yang kurang bersih pada proses pembilasan, sehingga sisa sabun dibiarkan mengering kembali berbusa karena terkena cipratan air dari kubangan sisa hujan tadi.
Di Blok S kami harus mencari terlebih dahulu Mu Gung Hwa tersebut. Menurut Tole, jalan yang kami lewati adalah jalan menuju rumah Raditya Dika walaupun tidak tahu persis rumahnya. Lelah mencari, kami beristirahat terlebih dahulu sementara Ariz mencari seorang diri. Tak lama kemudian, Ariz membawa kabar baik. Ternyata Mu Gung Hwa hanya berjarak seratus meter lagi. Kawan, perjalanan melintasi blok bukanlah pekerjaan mudah dengan berjalan kaki.
Untungnya sepatu Alwi sudah terlihat sembuh ketika masuk kedalam supermarket tersebut. Ariz dan Tole yang tahu seluk beluk makanan Korea segera mencari makanan yang unik. Alwi, Reyan, dan Luthfan yang tidak tahu apa-apa hanya membeli es krim yang cara makannya disedot (karena memang tujuan utamanya adalah membeli es krim ini). Sementara Tole dan Ariz membeli mi Korea yang sebenarnya rasanya tidak lebih baik dari mi karya anak bangsa, Indomie.
Es krim kami nikmati di Circle K tepat di depat supermarket tersebut. Agar tidak dicurigai mengambil jatah meja dan kursi, Tole membeli air mineral. Perjalanan tidak berakhir sampai disitu. Kami membeli kerak telor untuk mengisi perut yang hanya berisikan es krim. Kami membeli tiga porsi kerak telor pedas. Kami berpikir rasa pedas kerak telor tersebut berasal dari bubuk cabe, lada, ataupun bubuk-bubuk pembuat pedas lainnya. Dan ternyata, kami salah. Rasa pedas tersebut dihasilkan dari irisan cabai merah dan hijau yang besar! Sungguh diluar dugaan. Kami memakannya dengan hati-hati takut kalau nanti ranjau cabai itu tergigit. Kala waktu menunjukkan pukul delapan malam, kami pun beranjak pulang.

Jangan abaikan nasihat orang tua ya!